Manusia dan Kebudayaan

Mengenai masalah kebuudayaan, ada baiknya kita mengetahui bagaimana pendapat Ki Hadjar Dewantara. Menurut beliau kebudayaan adalah buah budi manusia yang beradab. Kebudayaan juga merupakan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi kita. Dua kekuatan itu adalah kodrat alam dan zaman/masyarakat tiap-tiap bangsa. Karena kedua kekuatan tersebut menyebabkan selalu tampak warna yang khusus pada kebudayaan masing-masing bangsa. Jadi, kebudayaan masing-masing bangsa mempunyai kepribadian, yang membedakannya dengan kebudayaan bangsa lain.

Ki Hadjar Dewantara menjelskan bahwa sifat kebangsaan itu berarti kemerdekan bangsa seutuhnya, tidak hanya kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan kebudayaan. Tidak ada gunanya mengejar dan mencapai kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan kebudayaan. Tidak ada gunanya mengejar dan mencapai kemerdekaan politik apabila dalam kebudayaan kita mengekor bangsa lain.

Bolehkah kita mengambil unsur-unsur kebudayaan lain? Untuk menjawab pertanyaan ini, beliau menyatakan bahwa dalam menerima atau mengambil kebudayaan asing, kita harus bersikap selektif dan memilih, tidak membabi buta asal mengambil adau meniru. Kita harus memilih apa yang bermanfaat bagi hidup dan penghidupan kita. Kita pilih apa saja dari kebudayaan asing itu yang dapat memajukan dan memperkaya kebudayaan bangsa kita sendiri.

Agar kebudayaan itu tidak mundur atau mati, kita tidak boleh mengisolasi kebudayaan tersebut, tetapi harus selalu ada hubungan antara kebudayaan dengan kodrat dan masyarakat. Selanjutnya agar kebudayaan tersebut dapat dimajukan dan diperkaya, diperlukan adanya hubungan dengan yang lain. Kemajuan kebudayaan harus berupa lanjutan langsung dari kebudayaan sendiri (kontinuitas), menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia (konvergen), dan tetap mempunyai sifat kepribadian dalam lingkupngan kemanusiaan sedunia (konsentris). Kontinuitas, konvergensi, dan konsentrisitas ini merupakan asas Trikon.

Ki Hadjar Dewantara menganjurkan agar kita lebih baik mengutamakan asimilasi daripada asosiasi. Artinya kita memilih atau mengambil bahan-bahan itu hingga menjadi masakn baru yang lezat rasanya bagi kita dan menyehatkan hidup kita. Pemilihan unsur-unsur budaya asing dilakukan dengan menggunakan saringan (filter), dan sebagai filternya adalah Pancasila.

Tentang juliardibachtiar

saya adalah seorang manusia biasa yang terbiasa mencari suatu ilmu yang luar biasa dengan cara yang tak biasa.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s